Catatan Kajian Ustadz Dzulqarnain – Kitab Tauhid – 5

Rangkuman Catatan dari Daurah Pertemuan Keempat (Pendahuluan 3)
Pembahasan Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi

Pemateri: Ustadz Dzulqarnain M Sanusi Hafidzahullahu Ta’ala

Materi berupa audio bisa di download di sini : >>link download<<
Untuk melihat isi Kitab Tauhid dalam format pdf di sini : Kitab tauhid – Syaikh Muhammad At-Tamimi


bismillah1

– Pembahasan Bab Pendahuluan Kitabut Tauhid (ayat ke-3: QS. Al Isra’, 23-24)

“Dan Rabbmu (Tuhanmu) telah memerintahkan supaya kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbuat baik kepada orangtua kalian dengan sebaik-baiknya. Apabila salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia tua, maka sekali-kali janganlah kalian mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” (kata bantahan atau semisalnya). Dan jangan kalian membentak/menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra’, 23)

Dan rendahkanlah diri kalian terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan berdoalah kepada keduanya : “Wahai Tuhanku, rahmatilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku semenjak aku kecil” (QS. Al Isra’, 24).

– Penjelasan Kata Qodho –

>> Qodho : artinya memerintah, mewasiatkan. Termasuk qodho syar’i (perintah yang sifatnya syar’i)

>> Qodho dibagi 2

  • Qodho syar’i : Bisa terjadi dan tidak
  • Qodho kauni : Sudah pasti terjadi

*Soal qodho atau iradah lihat penjelasan di catatan pertemuan ke-4 

– Makna Ayat Secara Global –

  1. Pengabaran bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintah dan mewasiatkan melalui lisan-lisan para Rasul agar hanya Dia semata yang disembah, tiada yang diibadahi kecuali Allah.
  2.  Seorang anak diperintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya melalui ucapan maupun perbuatan.

– Hubungan Ayat dengan Bab –

  1. Tauhid adalah hak yang paling ditekankan, kewajiban yang paling kuat.
  2. Dalam ayat ada 18 pembahasan, dan awal pembahasan berkaitan dengan tauhid.
    Allah tidak memulai kecuali dengan sesuatu yang paling penting, kemudian dilanjutkan dengan perkara yg lebih penting setelah itu. Alasan kenapa penulis membawakan ayat ini di sini (di bab pendahuluan), karena tauhid adalah perkara yang paling penting dan yang penting setelahnya adalah memuliakan kedua orang tua.

– 18 pelajaran-pelajaran yang didapat dari surah Al-Isra (23-39) –

* Ustadz Dzulqarnain dengan khusus menambahkan beberapa lanjutan ayat yang dinilai masih berhubungan dengan ayat sebelumnya yang dijelaskan dalam pendahuluan kitabut tauhid ini (Al-Isra ayat 23, hingga ayat 39).

1. Perintah dan kewajiban ibadah hanya kepada Allah. Jangan kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan ayat ini juga terdapat di dalamnya penafian (tidak boleh beribadah selain kepada Allah) dan penetapan (beribadah hanya kepada Allah). (ayat 23)

  • Potongan ayat dalam surah Al-Isra 23: Jangan kalian beribadah selain kepada Allah kewajiban untuk menegakan hak-hak orang tua dengan sebaik mungkin, berbakti dengan sebaik-baiknya. (ayat 23)

2. Kewajiban untuk menegakan hak-hak orang tua dengan sebaik mungkin, berbakti dengan sebaik-baiknya.

  • Potongan ayat dalam surah Al-Isra 23: Dan hendaknya engkau berbuat baik kepada kedua orangtua dengan sebaik-baiknya.

>> 5 hak Orang tua yang dijelaskan dalam ayat (Al-Isra 23-24)

1. Jangan berkata uh/ah (kalimat bantahan/ keluh kesah)

– Potongan ayat dalam surah Al-Isra 23: Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”.

2. Jangan menghardiknya

– Potongan ayat dalam surah Al-Isra 23: Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

3. Ucapkan kepada keduanya ucapan yang baik.

– Contoh: tidak menyebut/memanggil orang tua dengan nama langsung namun dengan kata ‘ayah’ dan ‘ibu’. Berbicara kepada orang tua dengan ucapan yang baik.

– Potongan ayat dalam surah Al-Isra 23: Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

4. Berlembut dan merendah kepada orang tua, sehingga tidak ada sesuatu pun yang orang tua sukai kecuali ia tidak menahannya. Menunjukkan kasih sayang kepada orang tuanya.

– Potongan ayat dalam surah Al-Isra 24: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.

5. Mendoakan kedua orang tua dengan rahmat (agar dirahmati oleh Allah) dan mendoakan kebaikan apa saja untuk mereka.

– Potongan ayat dalam surah Al-Isra 24: Dan doakanlah keduanya: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”

>> Berbakti kepada orang tua adalah perkara yang besar di dalam pembahasan Al-Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah. Sampai disebutkan salah satu sifat nabi & Rasul adalah berbakti kepada orang tuanya walaupun orang tuanya adalah kafir (seperti kisah Nabi Ibrahim Alaihi sallam, yang tetap memanggil kedua orang tuanya dengan ucapan yang lembut meskipun kedua orang tuanya menentang dakwahnya).

3. Memberikan kepada karib keluarganya yang merupakan hak-hak mereka, menyambung hubungan silaturahmi kepada kerabatnya. (ayat 26)

4. Memberikan hak orang-orang miskin, dan fakir lebih perlu daripada miskin. (ayat 26)

5. Memberikan hak ibnu sabil (musafir yg kehabisan bekal) (ayat 26)

Keluarga dekat, orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal adalah orang-orang yang berhak dalam mendapatkan sodaqoh.

  • Surah Al Isra, 26 (dalam pembahasan poin 3,4,5, 6) : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

6. larangan mubazir. Mubazir adalah menginfakan harta tanpa hak apakah karena caranya yang berlebih, atau ia menggunakannya dalam maksiat, atau menggunakan harta dalam berlebihan, atau ia memberikan hartanya dalam hal riya atau berbangga-banggaan. Termasuk juga memberikan upah pada dukun dan perempuan yang meraung-raung ketika ada meniggal, dsb. (ayat 26 & 27)

– Kata Mujahid rahimahullah ta’ala: Andaikata engkau memberi satu mud harta dalam sebuah kebatilan, maka pemberian itu dianggap mubazir.

  • Surah Al Isra, 27 : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

7. Larangan dari akhlak bathil, sebagaimana juga dilarang untuk terlalu bergampangan (mubazir) (ayat 29 & 30)

  • Surah Al-Isra, 29: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Allah memuji orang yang ada di pertengahan: mereka kalau berinfak tidak berlebihan dan tidak pula menahan, tapi pertengahan antara keduanya.
  • Surah Al-Isra, 30: Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

8. Larangan membunuh anak-anak karena takut kekurangan (ayat 31)

  • Surah Al-Isra, 31 : Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

9. Larangan berbuat zina dalam bentuk apa pun (ayat 32)

  • Surah Al-Isra, 32: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

10. Larangan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali jika ada perkara yang diizinkan syari’at. Karena membunuh jiwa adalah perkara yang dilarang tanpa ada silang pendapat di antara ulama. Misal: Hukum qisas yaitu hukum untuk diperbolehkannya dibunuh karena membunuh jiwa orang lain. (ayat 33)

  • Potongan surah Al-Isra, 33 : Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.

11. Siapa yang dibunuh dalam keadaan didzolimi, Allah telah jadikan ada kekuatan terdapat walinya. (ayat 33)

  • Potongan surah Al-Isra, 33 : Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan (hak) kepada ahli warisnya,

Hak untuk walinya di antaranya adalah melakukan qisas, mengambilnya, mendapat bayaran, atau dibatalkan/dimaafkan dengan cuma-cuma.

12. Berlebihan dalam membunuh. Jika wali mengqisas harus dengan wajar tidak berlebihan. (ayat 33)

  • Potongan surah Al-Isra 33: tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

13. Larangan mengambil harta anak yatim (anak yang sudah meninggal ayahnya). Kecuali untuk merawat hartanya karena anak tersebut belum baliq dan belum pandai menggunakan hartanya hingga anak tersebut cukup pandai dalam menggunakan hartanya. (ayat 34)

  • Potongan surah Al-Isra, 34: Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa.

14. Perintah memenuhi janji (al-Ahad) Allah. Al-Ahad artinya melaksanakan apa yang Allah perintah, meninggalkan apa yang Allah larang, serta berkomitmen untuk melaksanakan janjinya kepada orang lain.

  • Potongan surah Al-Isra, 34: dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

15. Menyempurnakan timbangan, ditunaikan secara utuh, sempurna, tidak dikurangi takarannya. (ayat 35)

  • Surah Al Isra, 35 : Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

16. Larangan untuk berucap tanpa ilmu (dalam semua pembahasan agama). (ayat 36)

  • Surah Al-Isra, 36: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

17. Larangan bersombong, menghinakan manusia, menolak kebenaran. (ayat 37)

  • Surah Al Isra, 37 : Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

18. Larangan berbuat kesyirikan. (ayat 39)

  • Surah Al-Isra, 39: Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).

*Pembahasan pertama diawali dengan perintah bertauhid dan pembahasan yang terakhir diakhiri dengan larangan berbuat kesyirikan.

Faidah (pelajaran-pelajaran) dalam Ayat (Al-Isra, 23, 24) –

1. Tauhid adalah kewajiban yang pertama kali yang Allah perintahkan, merupakan hak-hak wajib yang pertama atas seorang hamba.

2. Terdapat kandungan La illaha illallah (berupa peniadaan dan penetapan). Dalil bahwa tauhid tidak akan tegak kecuali dibangun dalam 2 hal peniadaan dan penetapan.

  • Peniadaan : tidak boleh beribadah selain kepada Allah.
  • Penetapan : beribadah hanya kepada Allah.

3. Terdapat penjelasan tentang besarnya hak kedua orang tua.

4. Perintah berbuat baik terhadap orang tua pada segala hal, ucapan maupun perbuatan.

5. Keharaman durhaka kepada orang tua.

Pembahasan Bab Pendahuluan Kitabut Tauhid (ayat ke-4 : Al An’am, 151-153)

“Katakanlah (Muhammad), kemarilah kalian aku akan bacakan hal-hal apa yang Rabbmu haramkan terhadap kalian, yaitu “Janganlah kalian berbuat syirik kepada Allah dalam hal apa pun. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). (Al-An’am 151)

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (Al-An’am 152)

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am 153)

*Dibeberapa syarah (Syaikh Shalih Al-Fauzan & penulis Fatul Majid) ayat keempat ini (al-an’am 151-153) dijadikan ada di urutan ayat kelima pembahasan Pendahuluan Kitabut Tauhid, karena akan ada sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud yang berkaitan dgn isi surah ini. Dalam kajian ini akan dibahas setelahnya mengikuti isi buku yang ditulis penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah).

– 3 ayat Al-an’am ini menjelaskan tentang 10 hak (wasiat) –

  • An-an’am 151 : ayat pertama berisi 5 hak
  • An-an’am 152 : ayat kedua berisi 4 hak
  • An-an’am 153 : ayat ketiga berisi 1 hak

– 10 wasiat yang terdapat dalam ayat-ayat ini –

Ayat 151

1. Hak yang pertama menjelaskan tentang larangan kesyirikan, tidak boleh mempersekutukan Allah dengan suatu apa pun.

2. Kepada kedua orang tua haruslah berbuat baik.

3. Jangan membunuh anak-anak karena takut kekurangan.

4. Jangan mendekati kekejian-kekejian (hal-hal yang dilarang) yang tampak maupun yang tersembunyi, sedikit maupun banyak.

5. Jangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak (kebenaran/alasan yang benar dan syar’i).

Ada 4 jiwa yang ma’sum artinya jiwa yang tidak halal untuk ditumpahkan darahnya/dibunuh, yaitu :

  • Jiwa seorang muslim.
  • Jiwa kafir zhimmi : yaitu mereka yang hidup di negara-negara Islam, maka antara mereka dan umat Islam terikat akad dzimmah.
  • Jiwa kafir mu’ahad : yaitu orang kafir yang menjalin perjanjian antara dirinya dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang dalam rentang waktu yang sama-sama telah disepakati.
  • Jiwa kafir musta’min : yaitu mereka yang masuk negara Islam dengan jaminan keamanan. Seperti: pebisnis yang masuk ke negeri Islam dengan tujuan perdaganan atau sebab lainnya.

*Penjelasan 4 golongan kafir yang haram darahnya ditumpahkan, dinukil dari artikel berikut : http://www.konsultasisyariah.com/wajibnya-memerangi-setiap-orang-kafir/

Setelah menyebutkan 5 wasiat ini Allah berfirman: Demikian Kami wasiatkan kepada kalian supaya kalian berakal (memahaminya).

Ayat 152

6. Jangan mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (untuk dijaga harta anak tersebut, untuk suatu perniagaan, untuk kebaikan anak yatim tersebut hingga anak yatim mencapai usia matang).

7. Penuhi timbangan dengan keadilan, tidak berbuat curang. Kami tidak membebani seorang jiwa kecuali sesuai kemampuannya.

8. Saat berucap hendaknya kalian berlaku adil. Pada siapa pun meskipun kepada seorang musuh. Berlaku adillah itu lebih mendekati ketaqwaan.

9. Terhadap janji Allah hendaknya kamu penuhi.

Setelah menyebutkan 4 wasiat ini Allah berfirman : Demikian diwasiatkan kepada kalian supaya kalian mengingat untuk melaksanakan perintah Allah.

Ayat 153

10. Mengikuti hanya jalan-Nya dan tidak mengikuti jalan selainnya.

  • Allah berfirman dalam surah Al-An’am (153) : Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, ikutilah jalan yang lurus tersebut, dan jangan mengikuti jalan-jalan yang lain sehingga akan memecah kalian dari jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.
  • Jalan-Nya: Jalan yang lurus disandarkan kepada Allah, menunjukan keagungan jalan ini.
  • Jalan lainnya: Jalan maksiat dan jalan bid’ah

Hubungan antara ayat dengan Bab

1. Wasiat yang pertama adalah larangan berbuat kesyirikan, dan perintah bertauhid sebagai konsekuensinya. Menunjukan bahwa tauhid adalah kewajiban yang paling wajib dan kesyirikan adalah keharaman yang paling besar.

2. Besarnya hak orang tua, kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua.

3. Haramnya membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan dalam syari’at.

4. Haramnya memakan harta anak yatim, dan dianjurkan melakukan perbuatan yang membawa kebaikan utk anak yatim tersebut.

5. Kewajiban berlaku adil dalam perkataan dan perbuatan pada orang dekat maupun orang jauh, semua.

6. Kewajiban memenuhi janji.

7. Kewajiban mengikuti agama islam dan meninggalkan seluruh agama lain.

8. Kewajiban untuk adil dalam memenuhi timbangan dan takaran

9. Penghalalan dan pengharaman hanya hak Allah Subhanahu wa ta’ala semata.

Pembahasan Bab Kitabut Tauhid (ayat ke-5 : An-Nissa : 36)

An-nisa 36

“Beribadalahlah kepada Allah dan janganlah kamu berbuat kesyirikan dengan sesuatu pun, sedikit pun.” (An-Nisaa’: 36)

*Dalam kitabut tauhid ayat tersebut hanya diambil sepotong, yaitu pada bagian awalnya saja tentang larangan kesyirikan yang sesuai dengan pembahasan, dalam surah An-Nisa ayat 36 selengkapnya menjelaskan tentang penyebutan hak-hak yang lainnya yang menunjukan bahwa ayat ini adalah ayat yang agung.

Isi ayat secara lengkap: An Nisaa (36) : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

– Makna ayat secara global –

  1. Allah memerintah hamba-hambanya beribadah kepadanya semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan melarang dari kesyirikan. Perintah ibadah kepada Allah secara umum, termasuk seluruh jenis ibadah hanya kepada Allah. Dan melarang apa pun bentuk kesyirikan.

– Hubungan Ayat dengan Bab –

  1. Ayat dimulai dengan perintah terhadap tauhid dan larangan dari kesyirikan.

– Kandungan Pelajaran yang terdapat dalam ayat –

  1. Kewajiban mentauhidkan Allah dalam ibadah
  2. Pengharaman kesyirikan.
  3. Meninggalkan kesyirikan adalah syarat sah ibadah.
  4. Haramnya kesyirikan, besar ataupun kecil, bagaimanapun bentuknya

– Hadist Sahabat Rasulullah, Abdullahi bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) Radiallahu anhu –

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang tertera di atasnya stempel beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wa ta’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.”

*Dari sisi riwayat ada sebagian ulama yang melemahkan dan menguatkan. Ada dua nama yang mungkin saja yang dimaksud dalam sanad tersebut (yang menjadi alasan ulama melemahkan hadist ini). Sedangkan Syaikh Muqbil Rahimahullah ta’ala adalah salah satu yang menguatkan hadist ini. Dan InsyaAllah hadist ini adalah hadist yang kuat.

– Kandungan dari atsar (ucapan) Ibnu Mas’ud –

  1. Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa Rasulullah itu tidak berwasiat kecuali dengan wasiat yang Allah telah mewasiatkannya.

– Hubungan Atsar Tersebut dengan Bab –

  1. Penulis membawakannya untuk menegaskan dan menekankan bahwa wasiat-wasiat dalam surah Al-An’am, yang wasiat pertamanya adalah tentang tidak berbuat kesyirikan adalah yang paling utama dan ditekankan oleh Rasulullah, menunjukan kewajiban bertauhid sebagai kewajiban yang sangat wajib.

– Faidah dari ucapan Ibnu Mas’ud

  1. Pentingnya 10 wasiat yang disebutkan dalam ayat (Al An’am)
  2. Bahwa Rasulullah berwasiat dengan segala sesuatu yang Allah wasiatkan, dan segala wasiat Allah dalam Al-Qur’an adalah wasiat Rasulullah
  3. Kedalaman ilmu dan kedetailan pemahaman para sahabat terhadap Al-Qur’an nul Karim, karena mereka bukan memahaminya sendiri tapi Rasulullah yang memahamkannya pada mereka. Itulah kenapa penafsiran para sahabat yang paling didahulukan di atas ucapan siapa pun selain para sahabat Rasulullah. Para ulama ahli tafsir hingga saat ini masih membawakan ucapan para sahabat Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam sebagai rujukan.
  • Ibnu Mas’ud berkata : Rasulullah menorehkan sebuah garis untuk kami, kemudian beliau membuat beberapa garis lain di samping kanan dan kiri garis tersebut, kemudian beliau bersabda “Inilah jalan Allah yang lurus.” Dan terhadap garis-garis yang lain beliau bersabda “Ini adalah jalan-jalan di mana syaitan menyeru kepadanya.” Kemudian Rasululah membacakan firman Allah, “Sesungguhnya itu adalah jalan-Ku yang lurus.”
  • Hadist semisalnya, Rasulullah bersabda : “Allah membuat perumpamaan jalan yang lurus, di atas kanan dan kiri jalan ini ada dua pagar-pagar tapi pada pagar-pagar tersebut ada pintu-pintu yang terbuka.” Kemudian kata Nabi Sallallahu alaihi wasallam, “Di penghujung jalan ada seorang penyeru. Dia berkata, “wahai sekalian manusia masuklah ke jalan ini dan jangan kalian berbelok, lurus saja!” Dan ada satu lagi penyeru lagi di tengah jalan,” Kemudian kata Nabi, “Kalau misalnya ada seorang yang berjalan dan ingin membuka pintu atau tirai maka penyeru di tengah jalan tersebut akan melarangnya.”

>> Penjelasan perumpamaan dalam hadist

  • Jalan yang lurus adalah Islam
  • Pagar adalah batasan-batasan Allah (larangan dan perintah)
  • Pintu-pintu terbuka adalah hal2-hal yang diharamkan
  • Penyeru yang ada di ujung jalan adalah Kitab Allah
  • Penyeru di tengah jalan adalah penasihat yang ada di hati setiap muslim (berasal dari fitrahnya dan ilmu pengetahuan yang ia ketahui)

*Perumpamaan ini menggambarkan dan menjelaskan, terangnya jalan Islam.

>> Penjelasan hadist berbasarkan pendapat Ulama

  • Kata para ulama hidayah ada dua: hidayah menuju kepada jalan dan hidayah di atas jalan.

Karena dai (penyeru) yang menyeru memang ada dua yaitu ada dai (penyeru) yang mengajak ke jalan tersebut dan ada dai (penyeru) yang berada di atas jalan tersebut. Seorang hamba ketika ia mengenal jalan menuju kepada islam itu adalah sebuah nikmat, tapi ketika ia berada dalam jalan islam ia perlu hidayah yang kedua agar ia tidak berjalan ke kanan ataupun ke kiri. Inilah yang dibahasakan para ulama sebagai nikmat mengenal Islam dan nikmat mengenal Sunnah. Jika ia sudah mendapat Islam ia sudah mendapat hidayah ke jalan, dan jika ia ingin kokoh di atas Islam maka harus berpegang kepada Sunnah Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam.

  • Al Imam An-Nawas bin Sam’an : Allah memberiku dua nikmat, aku tidak tau mana yang paling agung dari keduanya. Yang pertama adalah nikmat mengenal islam dan nikmat mengenal sunnah Rasulullah.

>> Pentingnya belajar ilmu agama:

  • Ilmu agama adalah puncak segala kebaikan
  • Kawan ketika sendiri
  • Menghibur saat bersedih
  • Mengingatkan ketika dia lalai
  • Yang menegur saat melalukan kesalahan
  • Yang menguatkan ketika ditimpa musibah
  • Yang selalu meluruskan langkahnya dan mengarahkan kpd kebaikan.

 

– Hadist Terakhir dalam Pembahasan Pendahuluan Kitabut Tauhid –

Dari Mu’adz bin Jabal, Radhiallahu’anhu berkata, “Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu alaihi wasallam di atas keledai.
Kemudian beliau berkata kepadaku : “Wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?”
Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.”
Kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.”
Lalu aku bertanya : “Ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?”
Rasulullah menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap menyandarkan diri (pasrah).”

(HR. Bukhari, Muslim)

* Mu’adz adalah salah satu pemuka sahabat yang diutus sebagai Duta Besar Rasululah ke negeri Yaman untuk mengajarkan islam dan mengajak manusia untuk masuk Islam.

– Makna Hadist Secara Global –

  1. Nabi ingin menjelaskan keutamaan dan kewajiban tauhid bagi para hamba.
  2. Penyampaian dalam bentuk pertanyaan agar lebih kukuh menancap ke jiwa dan lebih optimal saat sampai pada orang yang diajarkan.
  3. Nabi melarang agar orang-orang tidak bersandar hanya pada hal tersebut sehingga meremehkan amalan sholih (lainnya).

– Hubungan Hadist dengan Bab –

1. Menjelaskan kewajiban beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan kesyirikan

2. Terdapat sifat rendah hati Nabi Sallallahu alaihi wasallam yang naik keledai dan membonceng salah satu sahabatnya. Boleh mengendarai kendaraan secara membonceng selama kendaraan tersebut dinilai mampu.

3. Pengajaran dengan metode tanya jawab, salah satu dari metode belajar yang baik karena akan lebih kokoh pemahaman orang yang diajarkan.

4. Seseorang yang ditanya dan tidak tahu jawabannya hendaklah menjawab “Allahu a’lam” yaitu artinya Allah lebih mengetahuinya. Sedangkan di masa Sahabat saat Nabi masih hidup dianjurkan menjawab dengan “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”.

  • Kata para ulama, seperdua dari ilmu adalah mengucapkan Allahu a’lam. Sebab ilmu ada yang diketahui dan ada yang tidak diketahui.

5. Menganal hak Allah yang diwajibkan kepada hamba, yaitu beribadah kepada-Nya dan tidak berbuat kesyirikan terhadap Allah.

6 Hakikat dari ibadah, siapa yang tidak menjauhi kesyirikan pada hakikatnya ia belum menyembah Allah walaupun ia tampak menyembah Allah.

7. Keutamaan tauhid dan orang yang berpegang pada tauhid.

8. Terdapat tafsir tauhid.

9. Memberi kabar gembira kepada muslim dengan hal-hal yang menggembirakannya.

10. Boleh menyembunyikan ilmu jika ada kebaikannya.

11. Sikap beradab seorang murid kepada gurunya.

>> Penjelasan hak Allah terhadap hamba dan hak manusia terhadap Allah

Hak Allah terhadap hamba wajib ditunaikan oleh si hamba. Tapi hak hamba terhadap Allah tidak ada yang mewajibkan atas Allah. Apa yang Allah perintah adalah kewajiban terhadap hamba, tapi jika Allah menjanjikan sesuatu untuk hamba Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Dan apa yang Allah janjikan tersebut adalah karunia dari Allah. Tidak ada sesuatu yang dikatakan diwajibkan bagi Allah. Tapi jika Allah memberi suatu kenikmatan adalah karunia, jika ia menyiksa maka itu keadilan dari sisi Allah.

– Pelajaran yang Terkandung dalam Bab Pendahuluan Kitab Tauhid Ini

1. Hikmah pencintaan kaum jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

2. Ibadah adalah tauhid, karena pertentangan antara Rasul dan kaum kafir terletak pada hal tersebut.

3. Siapa yang tidak bertauhid maka artinya ia belum beribadah kepada Allah.

  • Terkandung dalam firman Allah di surah Al Kafiruun ayat 3 : Dan tidaklah kalian beribadah kepada Yang Aku Ibadahi.
  • Ibnu Qayyim dalam Kitab Bada-i’ al-Fawa-id, ketika Ibnu Qayyim dalam surah Al-Kafirun : Siapa yang tidak mengesakan Allah dalam ibadahnya pada hakikatnya ia belum beribadah kepada Allah meskipun sesekali ia beribadah tapi di kesempatan lain ia berbuat kesyirikan. Siapa yang tidak mendatangkan tauhid maka ibadahnya tidak akan diterima. Ibadah yang diterima apabila ia kontinyu dalam ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

4. Hikmah dalam pengutusan para Rasul.

5. Sesungguhnya kerasulan itu telah mencakup seluruh umat.

6. Ibadah para nabi dan rasul adalah satu. Mereka semua sepakat di atas tauhid (agama islam).

  • Allah berfirman dalam surah Al-Imran (85) : Siapa yang mencari selain islam tidak akan diterima dan dia termasuk orang yang merugi.

7. Masalah yang paling besar bahwa peribadatan kepada Allah tidak tercapai jika tidak berlepas dari thoghut

  • Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah (256) : Siapa yang kafir kepada thoghut dan beriman hanya kepada Allah ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.

###

Catatan dari saya: Silakah unduh dan dengarkan penjelasan langsung dari Ustadz Dzulqarnain Hafidzahullahu Ta’ala dalam rekaman audio untuk penjelasan yang lengkap, karena kemungkinan bisa ada pembahasan yang terlewat oleh saya saat merangkumnya dalam bentuk tulisan ini. Semoga bermanfaat. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s