Catatan Kajian Ustadz Dzulqarnain – Kitab Tauhid – 4

Rangkuman Catatan dari Daurah Pertemuan Keempat (Pendahuluan 2)
Pembahasan Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi

Pemateri: Ustadz Dzulqarnain M Sanusi

Materi berupa audio bisa di download di sini : >>link download<<
Untuk melihat isi Kitab Tauhid dalam format pdf di sini : Kitab tauhid – Syaikh Muhammad At-Tamimi


bismillah1
– Pembahasan Bab Pendahuluan Kitabut Tauhid (ayat pertama
Adz Dzariyat, 56)

*Lanjutan pembahasan ayat pertama : Adz Dzariyat, 56

Allah berfirman dalam surah Adz-Dzariyat (56): “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.”

– Penjelasan Ibadah –

>> Definisi ibadah (Al-Ubudiyyah) secara bahasa: berasal dari kata yang bermakna “yang hina”. Sehingga di dalamnya terkandung makna menghinakan diri atau merendahkan diri.

>> Perkataan Ulama mengenai definisi ibadah

  • Ibnu Jabir : Makna ibadah adalah tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan dan merendah kepada-Nya, dengan selalu bersandar hanya kepada Allah.
  • Al-Qodi Abu Ya’la : Hakikat ibadah adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan hanya kepada Allah, yang dilakukan di puncak penghambaan dan perendahan diri.
  • Ibnu Taymiyyah (Al-Ubudiyyah) : Ibadah adalah penamaan yang kompleks (lengkap), yang mencakup segala hal yang dicintai & diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala, apakah itu berupa ucapan atau amalan (perbuatan), yang dzohir maupun yang batin.
  • Ibnu Qayyim : Ibadah itu mengumpulkan dua dasar pokok:

1. Berada di atas puncak kecintaan dalam melakukan ibadah
2. Berada di atas puncak perendahan dan penghinaan diri

  • Ibnu Qayyim (Madarijus Salikin) : Perputaran ibadah dibangun dalam 15 kaidah. Siapa yg menyempurnakannya maka ia telah menyempurakan Al-Ubudiyyah (peribadatan kepada Allah).
    Ibadah itu terbagi menjadi 3, yaitu: ibadah pada hati, lisan, dan anggota tubuh. Yang masing-masingnya terbagi lagi dalam 5 hukum, yaitu: wajib, sunnah, haram, makruh, mubah.

>> Ibadah kepada Allah terbagi menjadi 3:

1. Ubudiyyah Ammah – Penghambaan umum : penghambaan yg berserikat di dalam semua makhluk.

– Allah berfirman dalam surah Maryam (93) : Tiada siapa pun di langit & bumi kecuali ia akan datang kepada Allah menghadap sebagai hamba Allah (sebagai makhluk ciptaan Allah).

2. Ubudiyyah Khassah – Penghambaan khusus : Penghambaan orang mukmin

– Allah berfirman dalam surah Al Furqaan (63) : Dan hamba-hamba Ar-Rohman (Allah Yang Maha Pengasih) mereka berjalan di muka bumi dengan merendah diri (penghambaan kepada-Nya).

3. Ubudiyyah khassahtul khassah – khusus dari yang khusus : Penghambaan para Nabi dan Rasul.

>> Ibadah adalah hal yang sangat pokok dan penting dalam kehidupan, seseorang tidak akan mendapat kebaikan kecuali di bawah teduhan peribadatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kesempurnaan dalam penghambaan dan ketinggian derajat ditentukan dari kesempurnaan ibadahnya.

  • Ibnu Taymiyyah : Kesempurnaan makhluk adalah di dalam mewujudkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, setiap hamba ini bertambah penghambaannya maka akan bertambah tinggi derajatnya.

– Kandungan dalam ayat di atas –

1. Dalam ayat di atas terdapat di dalamnya kewajiban untuk beribadah kepada Allah

2. Beliau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah ta’ala ingin menerangkan bahwa ibadah yang dimaksud adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa ta’ala.

– Penjelasan Iradah Syar’iah & Kauniyah –

>> Iradah (hikmah) Syar’iah : Suatu hal yang Allah cintai dan Allah perintah kepada hamba. Mungkin terjadi dan tidak terjadi terhadap hamba tersebut.

  • Contoh keinginan Allah yang syar’i: Allah menginginkan jin dan manusia agar beribadah kepada Allah, namun ada jin dan manusia yang tidak beribadah kepada Allah.

>> Iradah (hikmah) Kauniyah : Takdir yang sudah pasti terjadi.

>> 5 perbedaan iradah kauniyah & iradah syar’iah (sebagai pokok dalam memahami hikmah kehendak Allah/takdir):

1. Iradah kauniyah bermakna kehendak Allah, iradah syariah bermakna hal yang dicintai Allah.

2. Iradah kauniyah yang dikendakinya kadang Allah mencintainya dan kadang Allah tidak mencintainya. Sedangkan iradah syar’iah adalah hal yang sudah pasti Allah cintai.

  • Penciptaan makhluk termasuk iradah kauniyah
  • Abu bakar as-sidiq sudah dipastikan masuk surga termasuk iradah kauniyah
  • Adanya kekafiran termasuk iradah kauniyah

3. Iradah kauniyah pasti terjadi sedangkan iradah syar’iah tidak.

  • Contoh Iradah Kauniyah: Allah tetapkan kafirnya iblis dan fir’aun
  • Contoh Iradah Syar’iah: Allah menghendaki keimanan terhadap manusia namun tidak semua manusia beriman.

4. Iradah kauniyah untuk hal yang lain, sedangkan iradah syar’iah memang dimaksudkan kepada zat yang ditakdirkan itu sendiri.

  • Contoh Iradah Syar’iah: Allah menghendaki kaum mukmin beriman, memang keimanan itu sendiri yang diinginkan Allah dan dimaksudkan untuk orang-orang beriman tersebut.
  • Contoh Iradah Kauniyah: Allah tetapkan kekafiran tapi Allah tidak mencintai kekafiran, namun Allah punya hikmah di balik takdirnya untuk menguji siapa yang beriman dan siapa yang keluar dari keimanan.

5. Iradah kauniyah berkaitan dengan penciptaan, sedangkan iradah syar’iah berkaitan dengan perintah.

– Faidah (pelajaran-pelajaran) dalam Ayat (Adz Dzariyat, 56)

1. Kewajiban mengesakan ibadah hanya kepada Allah berlaku untuk segala makhluk (jin dan manusia).

2. Hikmah diciptakan jin dan manusia yaitu untuk ibadah.

3. Sang pencipta adalah Allah Al-Khaliq yang berhak mendapatkan peribadatan.

4. Menekankan kewajiban untuk beribadah hanya kepada Allah.

5. Penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memerlukan makhluk, namun makhluknyalah yang memerlukan-Nya.

6. Adanya hikmah dalam setiap perbuatan Allah.

7. Penetapan adanya jin.

Pembahasan Bab Pendahuluan Kitabut Tauhid (ayat ke-2 An-Nahl : 36)

* Potongan ayat yang dibahas dalam kitabut tauhid: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah semata dan jauhilah thoghut.”

– Penjelasan Kata Umat –

>> Kata umat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah setiap kelompok/generasi manusia dalam kurun waktu tertentu.

>> Kata umat punya banyak makna dan penggunaan (dalam Al-Qur’an):

1. Bermakna seorang yang menjadi panutan/suri tauladan

Penggunaan kata ummat dalam surah An Nahl (120) :

Sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah seorang umat (panutan) lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).

2 Bermakna agama : Ucapan kaum musyrikin yang dihikayatkan dalam Al-Qur’an

Penggunaan kata ummat dalam surah Az Zukhruf (23) :

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: Sesungguhnya kami dapatkan ayah-ayah kami dalam satu umat (satu agama) dan sesungguhnya kami di atas jejak-jejak mereka mengikuti petunjuk (dari jejak-jejak mereka).

3 Bermakna sekelompok manusia (makna paling dzahir dalam makna ayat ini) : Dalam kisah nabi Musa Allaihi Sallam ketika beliau melarikan diri dari kejaran Fir’aun ke sampai di Madian.

Penggunaan kata ummat dalam surah Al-Qasas 23 :

Dan tatkala beliau (Nabi Musa Alaihi Sallam) sampai di sumber air negeri Mad-yan, beliau menjumpai satu ummat (sekelompok manusia) yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

4. Bermakna Waktu

Penggunaan kata ummat dalam surah Yusuf (45) :

Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua, dia ingat (kepada Yusuf Allaihi Sallam) setelah satu ummat (setelah satu waktu): “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menafsirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”.

– Makna Ayat Secara Global –

>> Allah mengabarkan bahwa Ia telah mengutus seorang Rasul untuk mengajak beribadah hanya kapada Allah Subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan peribadatan selain kepada-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala selalu mengutus satu Rasul untuk setiap umat, sejak masa pertama terjadi kesyirikan (masa pertama diutusnya Rasul) yaitu masa Nabi Nuh Alaihis sallam hingga Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

>> Jumlah umat yang ada di muka bumi ada 70

  • Dalam hadist Bahaz Bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Muawiyah bin Haidah, Rasulullah bersabda : Kalian wahai umat Islam itu menggenapkan 70 umat, kalianlah umat Islam yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala.

>> Pada setiap umat, Allah telah utus seorang Rasul yang menyeru “Hendaknya kalian beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi thoghut (segala yang diibadahi selain daripada Allah Subhanahu wa ta’ala).”

– Hubungan Ayat dengan Bab –

>> Dakwah kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan adalah tujuan diutus para Nabi dan Rasul, tujuan orang-orang yang mengikuti para Nabi dan Rasul.

– Perbedaan Antara Rasul dan Nabi –

>> Para Rasul diutus untuk setiap umat. Para Rasul menghidupkan manusia, menerangkan cahaya yang dengannya mereka hidup dengan kehidupan yang sejati, karena tanpa cahaya dari para Rasul hakikatnya manusia tidak dianggap hidup.

  • Allah berfirman dalam Al-Qur’an di surah Al-An’am (122) : Apakah orang yang tadinya dia mati, kemudian Kami hidupkan dia, Kami berikan dia cahaya dan dia berjalan dengan cahaya tersebut, apakah sama orang yang seperti ini dengan orang yang perumpamaannya dia selalu berada dalam kegelapan.

Dalam ayat ini ada dua golongan yang disebutkan, yaitu golongan yang mati lalu Allah hidupkan dan golongan yang tetap mati dalam kegelapan. Maka diutusnya para Rasul adalah “kehidupan” bagi manusia.

>> Hikmah diutusnya Nabi & Rasul

1. Menegakan hujjah (alasan/dalil) di tengah makhluk.

  • Allah berfirman dalam surah Al Isra (15) : Dan tidaklah kami menyiksa hingga kami mengutus seorang Rasul.
  • Allah berfirman dalam surah An-Nisa (165) : Para Rasul sebagai pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, agar tidak ada lagi hujjah (alasan untuk membantah) dari manusia kepada Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

2. Sebagai rahmat dan kebaikan

  • Allah berfirman dalam surah Al-Anbiya (107) : Tidaklah kami mengutus engkau Muhammad kecuali untuk rahmat semesta alam.

3. Untuk menjelaskan jalan yang mengantarnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Siapa yang ingin mengetahui tentang syariat tdk ada jalan kecuali melalui perantara para Rasul.

>> Arti kata Nabi secara bahasa memiliki dua makna:

1. Berasal dari kata An-Naba yg bermakna berita (yang mengabarkan),

2. Berasal dari kata An-Nubuwwah yang bermakna ketinggian.

>> Arti kata Rasul secara bahasa bermakna pengutusan.

>> Perbedaan Nabi & Rasul

Pendapat pertama yang berkembang di tengah masyarakat:

Nabi: adalah seorang yang diberikan kepadanya syari’at namun tidak diperintah untuk menyampaikan.

Rasul: adalah seorang yang diberikan kepadanya syari’at dan diperintah untuk menyampaikannya

Pendapat kedua

Rasul: siapa yang diutus dengan syariat khusus untuk dirinya dan umatnya.

Nabi: dia menyampaikan syariat dari rasul sebelumnya.

Pendapat ketiga yang paling kuat di kalangan para ulama:

Rasul: diutus kepada suatu umat yang tidak bersepakat (menyelisihi) kepada mereka.

Nabi: adalah yang diutus kepada umat yang sudah bersepakat kepada mereka

Nabi dan Rasul sama dalam makna “diutus” untuk menyampaikan syari’at.

  • Allah berfirman dalam surah Al-Hajj (52) : Tidaklah kami mengutus sebelum kamu (Nabi Muhammad) seorang rasul & nabi.

Dua-duanya menggunakan kata “diutus” untuk menyampaikan. Jadi nabi dan rasul sama-sama diutus untuk menyampaikan syari’at.

– Penjelasan Thoghut –

>> Thoghut secara bahasa berasal dari kata yang artinya “melampaui batas”. Thoghut melampaui batas yang lebih besar lagi.

>> Apa yang dimaksud dengan thoghut?

Penafsiran para ulama:

  • Umar bin khatab : Thoghut sebagai syaiton
  • Dzabir : Thoghut dukun-dukun yang didatangi oleh syaitan
  • Imam Malik : Segala yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa ta’ala
  • Ibnu Qayyim : Thoghut adalah segala perkara yang seorang hamba melampaui batasan (hal yang diibadahi, hal yang diikuti, hal yang ditaati).

Thoghut dalam hal yang diibadahi : Beribadah kepada patung dan berhala
Thoghut dalam hal yang diikuti : Melampaui batas dalam mengikuti rahib-rahib atau pendeta-pendetanya.
Thoghut dalam hal yang ditaati : Taat pada penguasa yg dzalim (menghalalkan yg dzolim)

– Kandungan dalam Ayat di Atas –

1. Secara umum thoghut adalah meninggalkan segala yang diibadahi selain drpd Allah Subhanahu wa ta’ala.

2. Kafir kepada thoghut adalah agama yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul

3. Syarat keimanan adalah kafir terhadap thoghut dan hanya mentaati Allah Subhanahu wa ta’ala

  • Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah (256) : Siapa yang kafir terhadap thoghut dan beriman hanya kepada Allah maka ia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat.
  • Allah berfirman dalam surah Az-Zumar (17) : Orang-orang yang menjauhi thoghut dan mereka selalu bertaubat kepada Allah, untuk mereka kabar gembira.

Jenis Thoghut di antaranya (yang pokok ada 5):

– Iblis Laknatullah
– Siapa yg diibadahi (disembah) dan dia dalam keadaan ridho
– Barangsiapa yang menyuruh manusia untuk menyembah dirinya.
– Barangsiapa yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.
– Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain Allah.

*Jenis thoghut dinukil dari artikel berikut : http://muslim.or.id/aqidah/siapakah-thaghut.html Karena Ustadz Dzulqarnain hanya menjelaskan tiga di antaranya, sementara yang pokok ada lima jenis.

4. Terdapat larangan/pengharaman tasyabbuh (meniru) terhadap orang-orang musyrik adalah agama seluruh rasul.

– Pelajaran yang Bisa Diambil dari Ayat Tersebut –

1. Hikmah pengutusan para Rasul adalah untuk berdakwah menyeru pada tauhid dan menjauhi kesyirikan

2. Penjelasan agama para Nabi & Rasul adalah sama, yaitu untuk memurnikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala kesyirikan

3. Penjelasan bahwa risalah tauhid berlaku untuk setiap umat dan sudah tegak hujjah disetiap umat (dengan diutusnya rasul-rasul Allah).

4. Keagungan perkara tauhid, karena tauhid adalah wajib terhadap semua umat.

5. Menunjukan kandungan Laa illaha illallah sebagai inti dakwah para Nabi & Rasul kepada Allah.

Makna Laa illaha illallah ada 2:

– Menafikan ibadah selain kepada Allah
– Menetapkan ibadah hanya kepada Allah

###

Catatan dari saya: Silakah unduh dan dangarkan penjelasan langsung dari Ustadz Dzulqarnain dalam rekaman audio untuk penjelasan yang lengkap, karena kemungkinan bisa ada pembahasan yang terlewat oleh saya saat merangkumnya dalam bentuk tulisan ini. Semoga bermanfaat. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s